Read Persiden by Wisran Hadi Online

persiden

Seberapa lama kita bisa menanggung sebuah rahasia memalukan?Tak ada yang tahu mengapa Cik Inan mendadak berubah sikap, termasuk keempat saudara lelakinya. Penasaran, mereka berusaha mencari tahu penyebabnya.Namun, tak pernah terbayang jika rahasia Cik Inan akan menyeret mereka ke masalah yang lebih rumit. Bukan hanya menyangkut kelangsungan rumah bagonjong peninggalan leluSeberapa lama kita bisa menanggung sebuah rahasia memalukan?Tak ada yang tahu mengapa Cik Inan mendadak berubah sikap, termasuk keempat saudara lelakinya. Penasaran, mereka berusaha mencari tahu penyebabnya.Namun, tak pernah terbayang jika rahasia Cik Inan akan menyeret mereka ke masalah yang lebih rumit. Bukan hanya menyangkut kelangsungan rumah bagonjong peninggalan leluhur mereka, tetapi juga nama baik dan terutama rahasia-rahasia konyol yang tersembunyi rapat-rapat selama ini.Persiden, salah satu karya unggulan DKJ 2010. Melalui pergulatan sebuah keluarga di simpang Persiden, Wisran Hadi berusaha menyampaikan konflik tradisi yang terjadi di Sumatra Barat. Kental dengan nuansa Minangkabau, novel ini menggugat polah tingkah kita sehari-hari....

Title : Persiden
Author :
Rating :
ISBN : 9786028811392
Format Type : Paperback
Number of Pages : 396 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Persiden Reviews

  • Teguh Affandi
    2018-10-01 15:54

    Sebagai orang yang jauh dari budaya Minang, buku ini adalah wahana belajar tentang Matrinial-nya Minang. Dan beberapa hal-hal yang sangat erat dengan budaya terutama Rumah Bagonjong. Persiden menurutku simbol akan perubahan antara lokal wisdom dan kemoderenan. Disamping itu Persiden yang merupakan bangunan di tengah perempatan juga simbol bahwa setiap keputusan, sikap, dan keyakinan orang selalu berada di muara berbagai jalur. Yang di setiap jalur ada tikungannya.Satir. Dan mengiris!

  • Azia
    2018-09-20 20:11

    Novel ini menceritakan kisah keluarga besar yang mempunyai rumah pusaka keluarga yang dikenal masyarakat sekitar dengan nama ‘rumah bagonjong’. Ayah Bung, Pa Tandang adalah anak laki-laki tertua. Ia mempunyai tiga saudara laki-laki dan satu saudara perempuan yaitu Pa Mieki, Pa Ragih, Pa Rarau dan Cik Inan. Dalam kakak beradik jika saling silang pendapat mungkin biasa terjadi. Hubungan Pa Tandang dan adik-adiknya mengalami pasang surut terutama menyangkut soal rumah bagonjong, yang sertifikatnya digadaikan oleh Cik Inan tanpa memberitahu saudara laki-lakinya. Suami Cik Inan, Pa Lendo, sebagai semenda dinilai terlalu ikut campur urusan kakak beradik. Komunikasi di antara mereka terputus sampai-sampai tidak mau bertegur sapa.Malati, anak perempuan Cik Inan, kembang desa Paratingga digosipkan hamil di luar nikah oleh guru mengajinya. Desas desus tersebut akhirnya sampai ke telinga Pa Tandang. Ia hanya mengetahui bahwa keponakannya dipindahkan sekolah ke Yogyakarta. Berita tersebut bagaikan petir di siang bolong. Malati telah mencoreng nama baik rumah bagonjong. Apalagi mamak-mamaknya bukan orang sembarangan. Cik Inan dan Pa Lendo tidak mau berterus terang mengenai Malati. Dari saudara jauh Pa Tandang diketahui bahwa Malati sudah menikah dan melahirkan anak, namun anak tersebut diasuh oleh Ibu dari suaminya. Malati dipisahkan dari suaminya dan baru boleh bertemu setelah lulus kuliah sementara suaminya masih melanjutkan kuliah.Dari masalah Malati berkembang menjadi besar ke harta warisan, kewibawaan kaum, kepemimpinan suku, masa lalu rumah bagonjong dan hal-hal berbau mistis. Salah satu nenek dari rumah bagonjong ‘Sampiran’ mendatangi Pa Mikie secara gaib, ia berkata kondisi rumah bagojong sekarang akibat termakan sumpahnya dahulu. Konon Sampiran adalah saudara perempuan dari ibu mereka yang tidak diakui karena hamil di luar nikah dan dibuang dari ke daerah Lubuk. Suami dari Malati masih keturunan dari Sampiran. Artinya mereka masih satu suku. Pa Mikie mendesak Pa Tandang dan Pa Rarau untuk mencari anak Malati. Biar mereka yang mengasuhnya karena bagaimanapun anak Malati adalah penerus dari kaum mereka. Penulis menyebut ‘Bung’ seakan-akan sedang berkomunikasi dengan pembaca. Novel Persiden mengemukakan pergeseran nilai, silang pendapat kaum tua dan anak muda, kepatuhan pada adat dan kaitannya dengan dunia modern sekarang. Dalam adat istiadat Minang terdapat pepatah ‘Anak dipangku, Keponakan dibimbing’. Sistem matrilineal dalam minangkabau menurunkan suku dari keturunan garis ibu dan perempuan. Ketika masalah menimpa Malati, anak perempuan Cik Inan, menyeruak tidak hanya menjadi masalah orangtua nya saja. Pa Tandang, Pa Mieki, Pa Ragih, Pa Rarau sebagai mamak-mamak dari Malati juga mendapat sorotan. Bagaimana sih ninik mamak kok tidak tahu menahu kalau keponakannya sudah menikah? Apalagi kalau keadaan wanitanya sudah ‘berisi’ duluan. Terlepas dari pencarian Malati, Suami Malati dan Anaknya, pokok ceritanya mempertanyakan sikap dan kedudukan ninik mamak dalam dunia yang sudah berubah dan berkembang. Seringkali dalam penyelesaian adat istiadat masing-masing pihak mementingkan ego masing-masing. Semisal tanah-tanah pusaka keluarga sudah dijual digantikan dengan perbelanjaan, ruko atau perumahan. Sehingga persoalan Malati ini lebih banyak dilihat dari sisi pemikiran mamak-mamaknya. Bagaimana perasaan Malati sendiri yang dipisahkan dari anaknya setelah melahirkan hanya sedikit disinggung.Terkadang penulis tidak hanya menyoroti masalah yang melingkupi cerita keluarga rumah bagonjong, tetapi juga menyindir hal yang lain-lain yang membuat cerita jadi melebar. Saya juga menangkap sindiran halus dari penamaan tokoh-tokohnya. Saat saya melihat buku ini yang terpikir adalah judulnya yang aneh. Seperti plesetan dari kata presiden. Lalu saya mengenali nama penulis, Wisran Hadi, yang merupakan sastrawan dari ranah Minang. Aha! Saya sudah lama ingin membaca karya beliau namun belum jodoh sama karya-karyanya. Covernya unik. Gambar rumah gadang yang didorong alat berat. Kiasan yang tepat untuk menyiratkan terjadinya pergeseran nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau di dalam cerita. Setelah membaca novel ini tertinggal sebuah kalimat di dalam pikiran saya.“Apa kau benar-benar mau jadi orang modern dengan meninggalkan segala yang ada dalàm adat dan budaya?”selengkapnya di :http://bukabukuku.blogspot.com/2013/0...

  • Yusrizal Yusuf
    2018-10-10 19:10

    “Di sinilah uniknya hidup itu, Bung. Kita tidak pernah punya pengetahuan yang cukup tentang diri, orang-orang sekeliling, masyarakat, dan mungkin bangsa kita sendiri. Kita Cuma punya pengetahuan yang sedikit tentang mereka, tetapi sayangnya, dengan yang sedikit itu kita sudah mengganggap tahu segalanya”.—halaman 21.Sebulan lalu, aku menamatkan sebuah novel bejudul “Persiden” karangan Wisran Hadi (Alm). Novel ini adalah Novel unggulan DKJ 2010. Sampulnya sederhana saja; bewarna hijau lembut dengan gambar miniatur Rumah Padang (Rumah Bagonjong) yang berada ditengah himpitan mobil dan beko. Novel ini berkaitan erat dengan orang Minang, hingga Sapardi Djoko Damono menulis di kata pengantar novel ini sebagai; Ensiklopedi Masalah Minang.Sempat terbersit rasa kecewa saat membaca bagian pertamanya, penjelasannya sedikit bertele-tele dan terkesan membingungkan, perlu membaca beberapa kali untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang lokasi cerita tersebut. Seperti halnya Penulis mencoba menarik kita dari tempat duduk yang nyaman lalu menyeret kita ketempat baru yang sama sekali tidak kita kenal, Persiden itulah nama tempat itu. Persiden adalah pelesetan untuk sebuah Mall yang bernama President, dikarenakan orang kampung sekeliling tidak terbiasa mengucap kata Pre, lebih mudah mengucapkan kata Per. Hingga dalam seketika saja Kompleks perbelanjaan mewah itu berubah nama jadi Persiden. Persiden ini pun segera menjelma menjadi tempat gaul bagi anak-anak muda Paratingga. Hiruk pikuk orang menunggu angkot, hangout sambil ngopi, dan gosip sana-sini, sudah cukup membuat gaduh suasana Persiden setiap hari.Meski judulnya Persiden, namun kisah dalam novel ini adalah permasalahan dalam kaum Rumah Bajongong, rumah adat yang tak jauh dari Persiden itu. Saat telah sampai pada bagian dua dan seterusnya, novel ini jadi lebih menarik. Gaya bertutur Wisran Hadi dalam menghadirkan tokoh-tokoh yang namanya terdengar lucu dan konflik yang melantur ke persoalan adat versus agama, justru memperkuat cerita, menggelitik perut dan membuat kita tahu akan budaya Minang. Kesemuanya itu membuat cerita ini tak lagi membosankan. Intinya, novel ini bercerita tentang Malati yang diharapkan jadi penerus kebanggaan kaum Rumah Bagonjong , malah hamil diluar nikah dan rahasia memalukan itu disembunyikan oleh Ci Inan dan Pa Lendo, orang tuanya Malati. Usaha mamak-mamak Malati dalam menemukan dan mengungkap kasus itu justru membuka rahasia –rahasia lain dalam Rumah Bagonjong. Begitulah gambaran singkat tentang permasalahan utama dalam Novel ini.Dalam novel ini, Persiden oleh penulisnya dijadikan juga sebagai kata ganti dilema atau persimpangan hidup. Pun dengan diri kita pasti mengalami dilema saat harus memilih satu diantara pilihan-pilihan sulit, saat dihadang permasalahan pelik dalam hidup ini. Novel ini memberi kita sebuah pertanyaan besar yang harus kita jawab sendiri; “Akan kearah manakah kita nanti saat dihadapkan pada “Persiden” diri kita sendiri?”.

  • Darnia
    2018-09-26 15:09

    3.5/5 bintangSebelumnya, terima kasih banyak atas prembule dari Sapardi Djoko Damono tentang model penceritaan dan sudut pandang buku ini, karena jika tidak ada itu, mungkin gw bakal tersesat sesesat-sesatnya di Persiden *apeuu*.Persiden adalah plesetan masyarakat Paratingga untuk mall mewah President yg ada di persimpangan. Persiden juga merupakan tempat gaul bagi anak-anak muda Paratingga.Tempat mangkal angkot, tempat berkumpul orang-orang untuk sekedar kongkow, ngopi, sambil bergosip dan kegiatan-kegiatan leyeh-leyeh lainnya. Persiden, oleh penulis, digunakan sebagai kata ganti dilema atau persimpangan hidup. Dan persiden pelik sedang dialami oleh kaum Rumah Bagonjong. Meski judulnya Persiden, namun kisah dalam buku ini adalah permasalahan dalam kaum Rumah Bagonjong. Dimana kasus Malati, yg diharapkan sebagai penerus keturunan dan kebanggaan kaum, malah hamil di luar nikah dan disembunyikan oleh Ci Inan dan Pa Lendo, ibu dan ayah Malati. Usaha mamak-mamak Malati dalam mengungkap kasus ini malah mengungkapkan rahasia-rahasia lain dalam Rumah Bagonjong. Ya kira-kira semacam itu gambaran (amat) singkatnya.Yg menjadi sorotan gw adalah pemilihan nama. Gw akui, (alm) Wisran Hadi memiliki selera humor yg oke. Nama-nama yg digunakan untuk tokohnya banyak yg konyol, misalnyaPa Rarau karena dia suka merarau-rarauAda Mas Sam yg mengaku bernama asli Samsul Bahri (tapi bukan Samsul Bahri-nya Siti Nurbaya), dan dipanggil Mas Sam karena beliau ini jualan jeruk namun jeruknya nggak ada yg manis alias masam semua XDLalu ada Maijen, pensiunan tentara yg minta dipanggil Kopral Maijen sesuai pangkat terakhirnya, namun jadi aneh karena menurut orang-orang, namanya kepanjangan dari mayor jenderal XDKemudian ada Rangkayo bekas pengusaha kaya yg sekarang sudah bangkrut. Mempunyai seorang istri yg dulunya adalah penyanyi bernama SopranBelum lagi tiga uni keluarga rumah Bagonjong, Uni Sef, Uni Lateral dan Uni Emirat *ngakak* Terus ada Bang Samu dan Bang Saku XD Alhasil, gw kadang tersenyum geli sendiri dengan nama-namanya. Konfliknya agak melantur kemana-mana, dimana intinya adalah persoalan adat vs agama dan kepiawaian Wisran Hadi dalam bercerita bikin semua itu jadi nggak terlalu membosankan. Minimal, gw jadi tau sedikit budaya Minang.Satu lagi, soal cover. Gw jarang menemukan buku fiksi dengan cover yg diambil dari foto. Buku ini memberikan cover semacam itu (kalo buku-buku luar buanyak banget pake foto yg diotak atik). Namuuun foto yg sudah diedit untuk sampul buku ini+layoutnya....entah kenapa,malah bikin covernya jadi terlalu tjantiek! Malah kayak cover chicklit :D Warnanya soft banget dan kesannya jadi sangat feminin, padahal isinya jauuuuuuuh banget dari itu. Well, mungkin ini salah satu contoh "Don't judge a book by it's cover" kali ya :D

  • Tenni Purwanti
    2018-10-10 19:49

    Endingnya menggantung, seperti bercinta tanpa orgasme. Tapi ya, dengan memilih ending ini penulis menyerahkan akhir kisah kepada pembaca. Biarkan pembaca punya ending versi masing-masing. Terlebih karena sebelum ending, penulis menawarkan berbagai pilihan untuk para tokohnya. Biar di kepala pembaca saja para tokoh itu memilih.Awal baca buku ini sebetulnya agak membosankan, karena saya yang berdarah Jawa-Sunda harus masuk ke ranah Minang yang sangat asing bagi saya. Tapi lama kelamaan penulis berhasil membawa saya hanyut ke dalam cerita, sebab unsur komedinya sangat sangat menghibur. Saya bisa tiba-tiba terpingkal-pingkal dan lupa sedang membaca novel ini di bus :D Ulasan Sapardi Djoko Damono di pembuka novel ini patut dipertimbangkan untuk terus melanjutkan membaca novel sampai tuntas.Sayang Wisran Hadi sudah tutup usia. Padahal penulis seperti dia, yang mengangkat budaya, adat-istiadat di Indonesia, dengan teknis menulis yang rapi dan terstruktur, masih langka.

  • Bening Tirta Muhammad
    2018-09-23 19:16

    Buku ini ditulis dengan gaya baru, dengan pengandaian dari jalan yang bisa dipilih. Karakter para tokoh menghablur menjadi sifat-sifat dasar manusia.Ini cerita tentang kekang adat, malu, dan mempertanyakan untuk apa adat membesarkan yang kecil dan mengkerdilkan yang besar.Beberapa kalimat disampaikan secara gamblang, seperti bahasa preman. Haha.

  • A
    2018-10-05 19:54

    I love books because they let me travel faraway to distant places and learning different cultures by just turning pages. This particular book lets me learn A LOT about the culture of the Minangkabau or Minang people of West Sumatera. Indeed, it is not only the food of the Minang people that charms - the tales that its writers spin are as charming if not eye-opening. (^_^)

  • nur'ainitri wahyuni
    2018-10-04 16:15

    awalnya bikin penasara, ke tengah makin dibikin penasaran, tapi terus gaya nulisnya bikin bosen. mana ada embelembel mistis dan penampakan,wkwkwk. banyak nye-kip bagianbagian yang menurut saya ga penting.Persiden di sini ternyata nama tempat saudarasaudara.

  • Adek
    2018-10-03 21:55

    Tentang konflik internal adat, menceritakan kehidupan lima adik kakak yang tak mampu mengurusi warisan leluhurnya. Sebagai orang yang sangat dekat dengan cerita ini, saya agak miris karena hanya melulu menampilkan aspek negatif suku Minang. :)

  • Prasetyaningtyas
    2018-09-29 17:10

    Novel ini menceritakan tentang kehidupan sebuah kaum. Secara pribadi saya tidak terlalu suka. Karena bagi saya, ruang dalam berimajinasi dalam novel ini sangat di batasi. Hal ini dikarenakan adanya pilihan-pilihan yang diberikan oleh pengarang.

  • Ibnu Pratama
    2018-10-13 22:01

    Reading 'Persiden' reminds me of Emily Brontë's 'Wuthering Heights'. I hate everyone in this book

  • Farah Fitria Sari
    2018-09-28 16:10

    Semacam terpana sama cara penulis bikin buku ini. Semua kritik sosial tumplek di sini.

  • LostaMasta
    2018-09-22 22:01

    Rupanya aku ndak suka novel yang berbunga-bunga. Capek dan males bacanya...

  • Inasni Dyah R.
    2018-09-22 16:50

    Aku bener-bener gagal move on setelah baca Persiden! Wkwkwwk.Awalnya pengin ngasih tiga, terus ganti lima. Cuman, sekarang, lima itu ke masalah selera, sementara yang tiga lebih ke penilaian objektif.Yang jadi daya tarik adalah nama Persiden itu sendiri. Selain nama tempat dan jalan, maknanya jadi lebih dalam ke persoalan tiap tokoh. Aku selalu seneng tiap kali tokoh-tokoh itu dalam masalah, mereka digambarkan ada di persiden—maksudnya di persimpangan jalan. Jadi, judul sama cerita nyambung banget dan sangat berpengaruh.Terus, tiap tokoh mulai diperkenalkan satu per satu. Kalo nama mamak-mamak (kepala kaum), masih bisa diterima akal. Cuman, yang lucu adalah nama kayak Bang Samu, Bang Saku, Bang Krut, Uni Sef, Uni Emirat, Uni Lateral, Mas Sam, atau Sampiran. Belum lagi ada satu tokoh, Maijen, yang suka mempermainkan kata kayak gitu (tapi muncul cuma di satu bab sih). Ceritanya makin rame aja.Awalnya, aku ngerasa aneh. Pa Rarau—yang disebut sebagai PNS—sering digambarin “menangis berguling-guling”. Tertawa juga berguling-guling. Akhirnya, tiap kali ada penjelasan itu, aku ngakak sejadi-jadinya. Pa Rarau itu kan udah bapak-bapak. Sulit ngebayangin dia berguling-guling tiap kali lagi emosi. Tapi, Pa Rarau ini salah satu tokoh favoritku selain Pa Tandang. Mereka kalo udah debat atau ngomong sesuatu yang nggak sreg sama hati, pasti lucu. Padahal keadaan lagi genting atau serius.Yang bikin agak bingung adalah Rumah Bagonjong. Kupikir, rumah itu sepi dalam arti harfiah. Nggak berpenghuni dalam arti harfiah. Tapi, semakin ke belakang, Ci Inan sering pulang ke sana. Pas atapnya bocor, Pa Mikie bilang Ci Inan suruh suaminya aja yang ngebetulin. Dan ternyata, Ci Inan sama Pa Lendo emang tinggal di sana. Cuman emang jarang ada anggota kaum yang sering mampir.Kalo konflik, udah dimunculin sejak bagian pertama. Tujuh puluh halaman doang rasanya udah padet. Tiap tokoh punya value sendiri-sendiri. Dan, mereka ngelawan keadaan mulai dari kaum, adat, keponakan, sampe kehidupan masing-masing.Aku sampe takjub, bisa banget Wisran Hadi ngolah jalinan serumit itu. Ini juga yang jadi poin plus. Di sekujur novel, hampir dipenuhi sama tell. Misal, Pa Tandang lagi tengkar sama adik-adiknya, ya udah disebut suasana memanas. Terus mereka tertawa-tawa. Atau waktu kecewa/ngerasain sesuatu, dijelasin apa adanya. Tapi malah jadi seru dan enak diikuti. Rasanya aku jadi tersadarkan, ternyata tell itu bisa jadi bagus kalo tau makenya gimana.Topik yang dibahas pun beragam. Ada politik, agama, keyakinan mistis, egoisme, sampe organisasi wanita. Yang terakhir itu, menurutku yang paling lucu. (Yah, pada dasarnya adegan di sini banyak yang bikin ketawa sih; makanya gagal move on banget. ;w;)(view spoiler)[ Organisasi wanita itu disebut sebagai program pemerintah. Semua serba mewah. Program ibu-ibu pada menjanjikan. Eh, ujung-ujungnya malah kayak nyante-nyante doang. Gedung tinggi tiga tingkat itu mau dilebarin, dikasih kolam, salon, dan fasilitas yang nggak masuk akal lain. I mean, c’mon, program pemerintah apaan kalo cuma buat kepentingan pribadi gitu? Tapi, ada yang jauh lebih seru lagi: waktu narasi ngejabarin gimana wanita-wanita itu bukannya memberdayakan peran mereka, tapi malah terlalu bergantung ke pria buat memenuhi kebutuhan dan keinginan. Kalo keterusan, bukannya organisasi itu bekerja sesuai visi-misi, yang ada malah manja-manja ke pria.Dan jangan dikira aku misuh-misuh. Aku justru ketawa karena akhirnya ada juga yang nyindir topik ini! Muahahaha.(hide spoiler)]Selain twist, yang menjebak tuh pembawaan emosi dari awal sampe akhir. Aku udah sering baca cerita yang awalnya bikin ngakak nggak selesai-selesai. Eh, bener ternyata, pas ke belakang mulai kelihatan “borok” nasib tokohnya gimana.Jadi, emang seru banget waktu Pa Tandang, Pa Mikie, sama Pa Rarau terus menerus nyari info sehubungan dengan rahasia Ci Inan. Dari satu masalah, ke masalah lain. Eh lama-lama, pilihan mereka—terutama Ci Inan sama Malati, anaknya—kok jadi bikin geregetan.Misal nih, Pa Tandang pengin ke rumah Lettu (nemuin istrinya, lupa nama). Terus ada apa-apa, akhirnya nggak jadi. Keputusan spontan gitu doang ujungnya pasti masih aman. Walau emang Pa Tandang kayak ngelepasin kesempatan ngorek rahasia lebih dalam.Coba kalo Ci Inan atau Malati. Spoiler habis ini ngebahas akhir yang krusial. Awas. :3 (view spoiler)[ Ci Inan ngasih sertifikat Rumah Bagonjong ke bank buat nyogok jadi DPR, terus orang-orang malah menjauh. Ci Inan ngehukum anaknya. Eh, si Malati malah nikah sama orang lain pas di Yogyakarta. Yang disalahin Ci Inan? Ya orang-orang lain!Ci Inan bilang, dari awal orang-orang itu emang nggak suka sama dia, makanya nyebarin berita buruk, ngejauh, apalah. Ci Inan nyalah-nyalahin Malati—emang nggak bilang salah, tapi nanya-nanya kenapa anaknya nikah sama orang lain padahal masih jadi istri Maudian. Kenapa Malati nggak sadar sama posisinya yang penting dalam adat. Padahal kan Ci Inan yang bikin anaknya sengsara! You b****!Malati apalagi. Dia egois banget pengin Maudian terus yang memperjuangkan dia. Tanpa punya inisiatif tanya ke Ci Inan kek, ke mamaknya, atau ke siapa yang ada di Paratingga. Keburu kemakan emosi dan penginnya dideketin dulu. Malati aja nggak mau tanggung jawab sama perasaannya sendiri, ngapain minta orang lain berbuat serupa? HELL-O?(hide spoiler)]Dan baru kali ini aku marah-marah nggak jelas sepuluh menit cuma karena tokoh yang begonya nggak keruan. Aku jadi paham kenapa kadang orang nggak terima sama tokoh-tokoh tertentu sampe rasanya pengin nyabik-nyabik.Dan, ending-nya... kenapa ada narasi yang nyebutin tentang halang-rintang itu? Jadi si itu gimana? Kok pas bagian terakhir disebut bakal ketemu di satu titik? Aku jadi pengin Persiden JADI FILM kalo kayak gini caranya. :'DOh, ada yang bikin nggak sreg:- Tiap manggil nama orang kayak Bung, Tandang, Ci Inan, kadang nggak diawali koma.- Beberapa dialog tag masih pake huruf kapital kayak “Pikir” di hlm. 256 atau “...anak.” kata Pa Mikie di hlm. 289- Di hlm. 242, disebutin Maudian nyiapin skripsi buat Fakultas Adab, tapi di hlm. 268 dia kuliah di Fakultas Agama (?????????)- Penggunaan “apalagi” yang sebenernya “apa [spasi] lagi” yang gengges banget: “Apalagi urusan kita?” —hlm. 319 Dan ini nggak cuma satu. Banyak. =w=- Penggunaan “juga” setelah “pun” yang redundant rasanya pengin merarau-rarau berguling-guling: “Untuk melanjutkan sekolah mereka di mana pun juga, setinggi apa pun juga.” —hlm. 373 Dan ini juga nggak satu doang. Plis, ngerti nggak sih, “pun” di situ artinya ya “juga”????????Anyway, ada quote(s) yang aku suka banget:1. “Di sinilah kesalahan kita. Sebelum berangkat menelusuri segala persoalan, kita tidak pernah merenungkannya, tidak pernah memikirkannya, tidak pernah berterus terang pada diri kita sendiri, apa sesungguhnya yang kita cari?” —hlm. 2892. “Jika dia ingin persoalan dapat diselesaikan hari ini juga, caranya dengan bunuh diri. Terjun ke laut dalam. Atau semua persoalan harus dihadapi walau seluruh tubuh kapal dalam dirinya akan bergoyang dihantam badai dan gelombang.” —hlm. 360Well, di nomor 2, Pa Lendo bener-bener nyelametin reputasinya (di mata pembaca) for what he did toward Ci Inan.