Read Tokyo: Falling by Sefryana Khairil Ayuning Gita Romadhona Mita M. Supardi Levina Lesmana tyo Online

tokyo-falling

Pembaca tersayang,Musim panas di Tokyo selalu memiliki banyak warna. Sefryana Khairil, penulis Sweet Nothings dan Coba Tunjuk Satu Bintang mengajak kita berkeliling negeri sakura bersama dua wartawan bernama Thalia dan Tora.Keduanya dipertemukan oleh sebuah lensa. Lalu, Danau Shinobazu membuka mata keduanya tentang bahwa kenyataan sering sekali berbeda dengan asumsi merekaPembaca tersayang,Musim panas di Tokyo selalu memiliki banyak warna. Sefryana Khairil, penulis Sweet Nothings dan Coba Tunjuk Satu Bintang mengajak kita berkeliling negeri sakura bersama dua wartawan bernama Thalia dan Tora.Keduanya dipertemukan oleh sebuah lensa. Lalu, Danau Shinobazu membuka mata keduanya tentang bahwa kenyataan sering sekali berbeda dengan asumsi mereka pada awalnya. Thalia dan Tora berbagi tawa dan saling menyembuhkan. Hingga mereka sama-sama ragu, benarkah semuanya hanya sekadar kebetulan? Atau ini adalah satu dari misteri Ilahi yang mereka belum temukan jawabannya?Setiap tempat punya cerita.Dan bersama surat ini, kami kirimkan cerita dari timur yang sarat akan aroma lembut bunga sakura. Enjoy the journey,EDITOR...

Title : Tokyo: Falling
Author :
Rating :
ISBN : 9789797806637
Format Type : Paperback
Number of Pages : 338 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Tokyo: Falling Reviews

  • Retno
    2018-10-29 20:52

    Iya. Bukunya mbak Sefry yang ini sebagus itu! Worth 4 sparkling stars! :)Endingnya jelek? Ah. Nggak juga. Kita jadi punya kesempatan buat nagihin ke penulisnya: MBAAAAKK SEKUEL MANA SEKUEEEEEL? Hehehe.Tadinya males mau baca karena emang nggak terlalu suka dengan Jepang, I mean, Jepang yang ada di benak gue adalah tempat yang serba cepat, serba tertata rapi.. gitu deh. Rasanya nggak cocok sama gue yang slow but sure gini, yang nggak pengen cepet-cepet mengejar kereta karena takut telat. Tapi ternyata gue menikmati banget baca novel ini sampai halaman terakhir. Mbak Sefry menuliskan segala sudut Tokyo dengan informatif tanpa terlalu mendetail macam buku panduan 'What To Do in Tokyo'. Plotnya juga sederhana aja sih, malah kesan awalnya rasanya 'yaaah cerita gini lagi, gini lagi'. Tapi mbak Sefry menuliskannya dengan aman, nggak bakal terasa sampai halaman terakhir deh pokoknya.Novel ini berkisah tentang Tora dan Thalia yang nggak sengaja bertemu di Tokyo dan terlibat insiden kecil. Karena insiden tersebut, mereka berdua harus lengket, ke mana-mana harus bareng. Ada kesamaan dari dua orang ini: mantan. Thalia dan Tora datang ke Jepang untuk bertemu mantan. Sepuluh hari bersama, Thalia dan Tora merasa bahwa mereka klik. Sampai akhirnya mereka galau setelah bertemu the mantans ini tadi.Sebenernya nggak terlalu suka sama krakter Tora di cerita ini. He really is a coward. Tapi rasanya bisa memaklumi banget setelah tau masa lalu dia yang trauma dengan keadaan keluarga. Ditambah lagi dia bekerja dari dini banget, wah pasti makin gede deh rasa nggak puasnya. Pasti ada kecenderungan pengen lebih dan lebih. Thalia, di sisi lain mengejar hidup yang pasti. Hidup bersama mantannya itu memang bakal settle karena mantannya sudah mapan, tapi gimana rasanya kalo dia nggak pernah memmprioritaskan kamu jadi yang pertama? Bisa banget lah, belajar banyak dari novel ini.1. Jangan takut ambil resiko, karena nanti kamu akan nyesel nggak melakukan apa-apa sebelum kamu tau hasilnya.2. Sesibuk apapun, kalau memang sayang dan peduli, mereka akan meluangkan waktu meski hanya 5 menit untuk kamu.Adegan favorit! Waktu Tora misahin sayur dari mangkok Thalia dan langsung salting waktu diliain 2 sahabatnya. Hahahaha! <3Oh well, selamat tersesat di Tokyo! :)

  • Jessica Ravenski
    2018-10-24 17:20

    Endingnya agak ...hmmm... menyebalkan. Sepertinya sengaja biar pembaca mikir sendiri. Dan karena aku lebih suka cerita yang happy ending, maka kusimpulkan cerita TOKYO ini happy ending.Entah kenapa, ceritanya terasa seperti Infinitely Yours-nya Orizuka. Mungkin karena aku yang addict banget sama novel itu kali ya, jadi kebayang-bayang. Tapi okelah aku rinci kemiripannya:1) Tora tidak sengaja membuat lensa Thalia rusak (seperti Rayan yang tidak sengaja membuat PSP Jingga rusak.2) Mantan pacar Tora yang ingin menikah dengan lelaki Tokyo (seperti Mariska, mantan Rayan yang ingin menikah dengan lelaki Korea).3) Sikap Thalia yang agak 'kekanak-kanakan' (seperti Jingga).Rincian tadi enggak bermaksud apa-apa kok :)Dari semua seri STPC yang ada, cover TOKYO ini yang paling aku suka. Walaupun berwarna pink tapi enggak terkesan 'alay'.Umhh, segitu dulu deh ^^#reviewapaini

  • Yuska Vonita
    2018-11-03 19:54

    Tokyo: Falling merupakan karya Sefryana Khairil pertama yang saya lahap. Sebelumnya saya mendengar dari teman-teman pembaca tentang karyanya yang banyak disukai. Sudah lama saya memang ingin membaca novel Sefry, dan baru kali ini kesampaian, bertepatan dengan event STPC yang belum selesai di blog Lust and Coffee.Di novel ini, Sefry menyuguhkan tema fashion dan majalah dengan setting Tokyo. Saya penyuka fashion (walau bukan fashionista atau pengikut trend mutakhir) juga Jepang. Waktu mendengar kabar tentang akan dirilisnya novel Tokyo: Falling, tentu saya antusias dan sangat menantikan kehadiran novel ini.Adalah Thailia, seorang fashion editor di sebuah majalah perempuan di Indonesia yang pertama kali berkunjung ke Tokyo untuk meliput pameran fashion international. Lalu, ada Tora, redaktur pelaksana majalah LiveLife, terbang ke Tokyo untuk membereskan persoalan yang belum selesai.Bertubrukan, Thalia marah kepada Tora yang membuat lensa kameranya retak. Terpaksa mereka berbagi lensa karena waktu yang mepet, ditambah Thalia yang rese ingin Tora mengganti lensanya yang limited edition.Thalia semnagat ke Tokyo karena kekasihnya, Dean, bertugas di Tokyo. Alih-alih bertemu atau sekadar meluangkan waktu berbincang saat makan malam, Dean bagai hantu, menghilang ditelan kabut Tokyo. Sedangkan Tora mencari kepastian dari (mantan) kekasihnya, Hana, yang keputusannya membuat Tora syok berat.Berdua Tora dan Thalia bertualang mencicip soba, ramen, hingga berbelanja ke butik Liz Liza, Ueno Zoo, hingga berdesakan di kereta bawah tanah.Sefry piawai merangkai kata demi kata dengan indah. Terkesan romantis namun tidak berlebihan (karena saya bukan penggemar romance mendayu-dayu). Karakter pendukungnya juga bikin gemas. Seperti Dean yang nggak jelas keberadaannya bagai Casper, dan Hana yang awalnya tegas menyuruh Tora untuk menjauhinya, namun tiba-tiba malah meminta bertemu. Ada juga Alvin dan istrinya, Mikami, yang bisa berbahasa Indonesia dengan logat Jepang yang lucu.Masih ditemukan typo:Penasaran denga selera musik Thalia (hal. 118) <– denganBibirnya keduanya mengulas senyum (hal. 180) <– Bibir keduanyaIt doesn’t matter who hurt you or broke you down. What matter is who make you smile again (hal. 89)– It doesn’t matter who hurt you or broke you down. What matters is who made you smile again.Love is just a word yet it is an indescribeable feeling (hal. 231)– Love is just a word yet it is an indescribable feelingSo far typonya masih bisa ditolerir, tidak mengganggu atau mengubah esensi ceritanya sama sekali.ThaliaManja, tipikal perempuan kosmopolitan. Ditambah dengan profesinya sebagai fashion editor yang menuntutnya tampil modis dan ditempeli barang branded. Walau manja, cranky, dan, tidak mau susah dan agak jutek, Thalia berhati lembut. Anehnya, walau saya tidak menyukai tipe perempuan seperti Thalia, karakter Thalia tidak menyebalkan. Agak gemes sih dengan kenaifannya setiap kali menghadapi Dean, tapi nggak sampai menyebalkan.ToraCowok banget, cuek, rada berantakan, nggak peduli fashion, namun perhatian dan, sama seperti Thalia, hatinya lembut dan mudah terenyuh di hadapan perempuan yang ia cintai. Tora juga tipe setia, rela berkorban dan pelindung. Walau rada cuek, Tora suka pakai parfum juga sih, dan saya penyuka cowok wangi.Tokyo: Falling menjadi penutup seri STPC dengan manis. Setelah membaca novel ini, saya jadi tersenyum dan ada perasaan hangat, seperti cuaca musim panas di Tokyo.Nggak sabar menunggu karya Sefry selanjutnya.

  • Awal Hidayat
    2018-11-04 00:10

    Di antara dua orang, Tora dan Thalia, terlalu banyak kesamaan yang pada akhirnya berujung dengan pertemuan "merepotkan" di pusat Jepang, Tokyo. Sama-sama berprofesi sebagai jurnalis, sama-sama menyimpan luka yang semacam, lalu lamat-lamat mencuat pula rasa yang sama, sama-sama tersimpan lama dalam relung, membatin. At Tokyo, they, both, are falling. . .***"I think I could get through the days without you. But, I can't." - Tora."It doesn't matter who hurt you or who broke you down. What matter is who make you smile again." - Thalia."Kibou. Aku berharap bisa menghindarimu. Namun, kamu selalu ada di tempat yang aku tuju." - Thalia."Thal, love is a beautiful thing when you find the right person. Your love is the grand prize, so you have to wait for a man who is worthy." - Silvia."Jangan cepat-cepat memutuskan lo mencintai seseorang, kalau lo sendiri nggak yakin." - Silvia."Ikuti saja apa maunya rasa. Terkadang, cinta lebih memilih menjadi rahasia." - Thalia. "Relationship is like sailing a boat. To make the boat sail, it needs two persons to ride it. Two persons to paddle. If you're the only one paddling, you'll get tired eventually." - Tora."Saat kelak kamu mencariku, tetapi aku tidak ada, mungkin saat itu aku sudah tidak lagi menunggu. Tidak lagi ingin menoleh pada masa lalu." - Thalia."Pernikahan dalam bayanganku ya. . . seperti ayah dan ibuku. Saling mengisi satu sama lain. Ayah dan ibuku sudah puluhan tahun bersama tapi kata ibuku, rasanya mereka baru melewati waktu sebentar." - Thalia."Kalau kita sama-sama percaya rasa itu hadir, bolehkah kita percaya itu takdir?" - Thalia."Mungkin aku hanyalah rasa kantukmu. Begitu kamu membuka mata, aku telah menghilang, seolah tidak benar-benar ada." - Thalia."Ah, ternyata cinta juga ada musimnya. Terkadang merah jambu, terkadang abu-abu." - Thalia."Kamu tahu apa yang tidak kita miliki dari masa lalu? Kesempatan untuk mengulangnya lagi." - Thalia."Bersamamu tidak mudah. Namun, ketidak hadiranmu tidak membuatku baik-baik saja." - Tora."Have you ever seen something so real, so real until it makes you think that it will lasts forever?" - Thalia."If home is where the heart is, then my home is you." - Thalia."Sore ga ai desho. Takdir bukan berdiam diri saja, ia tengah menunggu kita memainkan ceritanya." - Thalia."Ada kalanya cinta butuh jarak. Bukan untuk berpisah, tetapi untuk menguji besarnya cinta itu sendiri." - Tora.***Beberapa fitur ekstra lain sedikit-banyak menjadi tambahan poin tersendiri. Saya berspekulasi sendiri, kalau buku ini agak memiliki warna Haruki Murakami. Saya belum pernah membaca satu pun tulisan penulis Jepang ini, but I strongly will. Lantas, alasan yang mencuat dari pikiran sok tahu saya adalah: "Anyone who falls in love is searching for the missing pieces of themselves" dan "Love can rebuild the world, they say, so everything's possible when it comes to love." Kedua kalimat Haruki menjadi sepasang yang membuka dan menutup cerita Sefryana. Sampul eksentrik dengan "merah jambu", sudah agak mewakilkan nuansa romansa dari keseluruhan cerita. Banyak sajak-sajak singkat Sefryana bernada liris dan penuh romantis. Setting beberapa spot di negeri Sakura pun menarik perhatian untuk pembaca-apa lagi kalau ia otaku.I like this book, definitely! Maybe the best of #STPC

  • Yuli Pritania
    2018-10-14 23:05

    Saya bukan penikmat hal-hal yang berasal dari Jepang, nggak tertarik juga ama Tokyo. Awal beli novel ini cuma gr2 saya ngoleksi STPC minus Paris yg g saya suka. Lagipula covernya manis, berwarna peach, warna kesukaan saya.Ternyata nggak mengecewakan. Saya suka semua quote2-nya. Ceritanya sendiri bs saya terima, terutama waktu Tora nggak berusaha mempertahankan Thalia. Kenapa? Karena itu terasa lebih manusiawi dibanding cowok yang sradak-sruduk berusaha dapetin ceweknya dengan segala cara. Itu ya cuma ada di novel2 atau film.Secara keseluruhan novelnya oke, eksekusinya bagus. Endingnya juga nggak masalah, walaupun emang gantung, tapi pembaca pasti bisa menebak apa yang akan terjadi berikutnya.Penutup yang manis untuk seri Setiap Tempat Punya Cerita, memperbaiki novel pembuka, Paris, yang bener-bener gagal kalau menurut saya.

  • Lia
    2018-10-31 21:05

    Novel kak Sefryana memang ga ada kalahnya. Dari jaman SMA aku udah suka dan beli semua novel buatannya, ga kecuali Tokyo ini walaupun baru kubaca akhir-akhir ini. Novel yang sangat kusukai, karena ga pengen cepet-cepet selesai. Setiap lembaran narasi, dialog antara Thalia dan Tora sangat dinikamtin. Kata-kata pembuka setiap ceritanya juga tepat menggambarkan apa yang terjadi di ceritanya.Move on itu susah. Yap, apalagi kita masih dibayangi masa llau kan. Mau gimana pun kita pasti akan terus mengejar. Begitu juga dengan Thalia dan Tora yang taanpa disengaja bertemu, berkenalan dan akhirnya ngeliput bareng. Gara-gara kesalahan Tora udah mecahin Kaca lensa kamera milik Thalia.Ceritanya seru. Eh, pas di akhirnya cuma bisa nganga doang.Sama kayak Tora yang ragu-ragu dan ga bisa ngasih kepastian. Begitu juga aku gambarin akhir kisah STPC Tokyo ini.Ditunggu lagi mba karya lainnya....

  • Finessa
    2018-11-04 18:10

    FIVE STARS FOR SEFRYANA.biasanya aku gak terlalu suka dengan ide ceritanya sefryana^^;;tapi buku ini bener-bener mengubah cara pandangku sama sefryana.this is such a great book. plot nya bagus banget, SWEET BANGET I SWEAR.tokoh ceweknya yang kalo marah lucu banget plus tora yang cuek cuek sayang. pokoknya sweet bangeeetttt.hihihi, recommended!

  • Ila
    2018-11-08 18:56

    Akhirnya!! :)Setelah sempet berhenti-berhenti, selesai juga :)4 dari 5 bintang gara-gara endingnya yg eeerrr.. bikin geregetan. Pengin rasanya buat ending sendiri u,uTapi, secara keseluruhan, bagus kok ;)Dan lagi, banyak quote-quote yg bagus..

  • Oktabri
    2018-10-24 17:15

    Meski baru membaca Sweet Nothings, Dongeng Semusim, dan Coba Tunjuk Satu Bintang, bisa kupastikan Tokyo: Falling ini karya terbaik Mbak Sefry. :)

  • Khuliqat Aqna
    2018-11-11 21:58

    Musim panas di Tokyo selalu memiliki banyak warna. Sefryana Khairil, penulis Sweet Nothings dan Coba Tunjuk Satu Bintang mengajak kita berkeliling negeri sakura bersama dua wartawan bernama Thalia dan Tora.Keduanya dipertemukan oleh sebuah lensa. Lalu, Danau Shinobazu membuka mata keduanya tentang bahwa kenyataan sering sekali berbeda dengan asumsi mereka pada awalnya. Thalia dan Tora berbagi tawa dan saling menyembuhkan. Hingga mereka sama-sama ragu, benarkah semuanya hanya sekadar kebetulan? Atau ini adalah satu dari misteri Ilahi yang mereka belum temukan jawabannya?Setiap tempat punya cerita.Dan bersama surat ini, kami kirimkan cerita dari timur yang sarat akan aroma lembut bunga sakura.TOKYO : Falling merupakan seri Setiap Tempat Punya Cerita ke-enam sekaligus yang terakhir untuk serial STPC yang pertama (kabarnya akan ada seri STPC kedua GagasMedia, minus Bukune). Dua hal yang buat aku ngga sabar menanti novel ini, karena TOKYO adalah salah satu kota idamanku dan karena seri STPC yang berlatar kota Tokyo ini ditulis oleh Kak Sef.Bercerita tentang Tora dan Thalia yang dipertemukan secara ‘tidak sengaja’ melalui perantara lensa. Mereka adalah wartawan Indonesia dari dua majalah berbeda. Keduanya sama-sama ditugaskan meliput berbagai acara yang banyak diselenggarakan di Tokyo pada musim panas.Keduanya yang jadi ‘terpaksa’ menjalani hari-hari liputan berdua –hari demi hari- mulai saling mengisi, saling menyembuhkan luka, dan tanpa sadar saling menemukan cinta. Keduanya saling membantu untuk keluar dari sangkar masa lalu.“Mungkin Tuhan tau kita nggak mungkin bisa menghadapi masalah kita sendirian, makanya ada yang nemenin.”Ketika awal baca sneak peeknya aku teringat novel Kak Orizuka yang judulnya Infinitely Yours. Pertemuan tak terencana, perjalanan di kota asing berdua, dan akhirnya menimbulkan benih cinta. Secara inti aku rasa keduanya hampir sama. Tapi karena ditulis dengan dua penulis hebat dengan passion penulisan yang berbeda membuat kedua buku tersebut istimewa dengan gaya yang berbeda.Yap, satu kata yang menggambarkan TOKYO : Falling, yaitu ‘Romantis.’Karya-karya Kak Sef memang selalu menghadirkan romantisme yang menghanyutkan pembaca, tentang bagaimana ia menuturkan interaksi antar kedua tokohnya.Belum lagi, perjalanan-perjalanan Tora dan Thalia serta wisata kuliner mereka yang menggiurkan. Benar-benar mencerminkan tema setiap tempat punya cerita. Riset yang sempurna, hasil yang memuaskan untuk Kak Sef yang belum pernah sama sekali dan belum tahu banyak tentang Tokyo sebelum menulis novel ini.Tora menatap lurus kedepannya. “Mungkin ada kalanya cinta butuh jarak. Bukan untuk berpisah, tapi untuk menguji besarnya cinta itu sendiri.”Kak Sef cukup berhasil menggambarkan tiap tempat dengan detail, bahkan sampai ke jenis kereta yang digunakan untuk mencapai tempat tersebut. Penggunaan kata-kata berbahasa Jepang juga cukup banyak, termasuk di penamaan bab. Namun, saya mengharapkan agar kebiasaan-kebiasaan masyarakat lokal mendapat porsi lebih banyak. Karena ini Jepang, negara yang bangga sekali akan keunikan masyarakatnya dan kebudayaan lokalnya sudah mendunia. Seandainya ada adegan Tora dan Thalia ikut upacara minum teh, misalnya, atau main pachinko... Mungkin akan lebih menarik. Ada sih adegan dimana mereka berdua karaokean, tapi kenapa waktu Tora menyanyi dipotong begitu saja? Apa yang Tora nyanyikan dan bagaimana gayanya sampai membuat Thalia ngakak? Dan satu lagi, saya sebenarnya berharap akan ada artis-artis terkenal Jepang yang disebut dalam novel ini. Yah tahu sendiri dong gimana industri hiburan Jepang sudah mendunia? Tapi kembali lagi, ini sih persoalan selera pribadi. Mengesampingkan hal-hal ini, buat saya penggambaran Tokyo sudah cukup baik.Overall, saya menyukai novel bercover merah muda-peach (apalah namanya) ini. Kisah tentang dua orang yang terjebak masa lalu dan membutuhkan penutup sehingga dapat melangkah ke depan dengan latar belakang kota metropolitan Tokyo menurut saya sangat menarik untuk dibaca. Dan saya sungguh tidak keberatan dengan ending-nya. Hehehe.So, 4 Stars :)

  • Tisana Shafira
    2018-11-13 00:08

    Akhirnya bisa baca ini buku sampe selesai..Review untuk cerita dari awal sampe pertengahan cerita,semuanya memuaskan,enak dibaca,feelnya dapet,seru juga,not bad pokoknya,..Tapi di pertengahan cerita aku sedikit ngrasa kaya,'kok ini seneng seneng mulu ya?kapan konflik muncul' aku mrasa agak sedikit bosen sama Tora dan Thalia yg notabene nggak ada bentrokan konflik sama tokoh lain,(Ada sih bentrok sama mantan mereka berdua,tapi menurutku kurang greget.Konflik Tora sama Hana,mantannya,menurutku terlalu cepat selesai,'kurang pedes' begitulah.)jadi kudu bersabar sedikit untuk ngrasain konfliknya,karna konfliknya ada di bagian akhir cerita.Tadinya aku yakin banget,kalo buku ini bakal aku kasih 5 bintang,karna,1.Buku ini bener" bisa menggambarkan jelas setidaknya sebagian kecil wilayah Tokyo itu kaya apa2.Buku ini punya gambaran" tiap bab yang nggak membosankan3.Kita jadi bisa belajar sedikit apa makna dari kata" Jepang.Karna menurut aku sendiri,kata" Jepang yg tadinya boring banget (buat aku) di buku ini malah menarik banget bagi ku,karna penjelasannya jelas,dibarengin sama ceritanya yang terus mengalir.4.Cuplikan cuplikan adegan romance di buku ini,bisa bikin aku,sebagai pembaca juga ikut deg degan,dan romancenya ini bukan sekedar romance macem cerita" teenlit,di sini romancenya lebih dewasa dan ngandelin perasaan yg lebih dalem,dan itu yg buat aku jadi ngrasa buku ini 'keren parah'5.Spot/latar tempat yang di ambil penulis ini,bener" seru.Sama sekali nggak membosankan yg aku kira tadinya sebelom baca novel ini.Contohnya pengarang nggak terus menerus ambil latar dimana Tokyo keliatan modern,tapi pengarang juga ambil latar kaya kuil",pagoda,tempat makan yang unik",festival,dll.Itu hal" yang tadinya bikin aku mikir 'gue kudu kasih ni buku 5 bintang' sebelum aku baca akhirannya.Nah,sebelom ke akhir cerita,ada satu adegan yang,buat aku sendiri,aku kurang suka.Bagian itu,adegan dimulainya konfik,dimana Dean ngelamar Thalia untuk nikah.Entah kenapa aku kurang 'sreg' sama bagian itu,dan bagian di mana akhirnya Thalia mutusin pesta pernikahannya sama Dean.Kurang menantang.Agak sedikit hambar.Itu yang aku rasain,kurang ada klimaks dr pembatalan pesta pernikahannya Thalia sama Dean.Nah,di bagian akhir novel ini,menurutku pengarang bener" bikin aku ngrasa kaya 'hah ini udah ni??udah selesai?cuma kaya gini endingnya?ah kok gini sih'Menurutku endingnya sedikit menyebalkan dan bikin aku kecewa,jujur aja.Karna yang aku dapet dr endingnya itu,rasanya itu masih nggantung.Walaupun kaya gitu,bukan berarti itu sad ending.Aku menyimpulkan kalo itu masih termasuk Happy Ending,cuma,...Happy Endingnya masih nggantung.Rasanya agak sedikit kecewa sama endingnya,yang tiba" aja berhenti.Karna menurut aku,menurut pendapatku sendiri,bagian akhir novel itu masih bisa buat di lanjutin,di perjelas lagi,gimana akhirnya hubunganya Tora sama Thalia.Tapi mungkin itu kemauannya pengarang untuk bikin ending cerita itu nggantung.Secara keseluruhan buku ini emang bagus untuk di baca,sangat memuaskan,aku suka adegan romancenya,hehe.Tapi sangat disayangkan,bagian akhirnya nggak sesuai harapan.Itu aja Review ku:) kalo kepanjangan,gomen;)

  • Desty
    2018-10-19 19:17

    Perjalanan terakhir saya bersama STPC adalah di Bangkok. Kali ini saya mendapatkan “tiket” ke Tokyo dari Secret Santa. Terima kasih Santa… tahu aja Santa kalau saya pengen ke Tokyo. Di Tokyo ada Sefryana Khairil yang mendampingi dan berbagi kisah cinta tentang sepasang wartawan yang sedang bertugas di Tokyo.Thalia mendapatkan tugas dari kantor tempatnya bekerja untuk membuat liputan beberapa acara fashion di Tokyo. Sebenarnya dia tidak semangat ke Tokyo, tapi begitu mendengar mantan kekasihnya Dean juga sedang ada tugas di Tokyo, perasaan itu jadi berubah. Thalia masih menyimpan harapan bisa kembali bersama dengan Dean. Dean adalah sosok lelaki sempurna untuk masa depannya. Sementara itu, Tora yang adalah wartawan di majalah traveling juga sedang ditugaskan di Tokyo. Tora sendiri punya misi pribadi. Dia ingin bertemu dengan Hana, mantan kekasihnya yang memutuskan hubungan LDR mereka secara sepihak.Pertemuan antara Thalia dan Tora terjadi di sebuah pusat keramaian. Tanpa sengaja Tora menabrak Thalia, sehingga lensa kamera yang sedang dipegang Thalia terjatuh dan retak. Thalia menuntut ganti rugi pada Tora, namun tidak mau kehilangan momen untuk liputannya. Tora menawarkan kepada Thalia untuk memakai lensa miliknya secara bergantian. Akhirnya mereka sepakat mengatur ulang jadwal liputan mereka. Perjalanan di Tokyo pun dilewati bersama. Lantas bagaimana dengan misi pribadi mereka?Ternyata Hana memutuskan hubungan dengan Tora karena menganggap Tora tidak bisa berkomitmen. Hana lelah diminta menunggu Tora yang selalu berkelana. Ketika dia menemukan seseorang yang membuatnya nyaman, Hana memilih untuk menikah dengan orang tersebut. Tora sakit hati dengan keputusan Hana, tapi juga menyadari kesalahan yang dibuatnya. Di sisi lain, Thalia yang sangat ingin bertemu dan ditemani oleh Dean di Tokyo ternyata tidak kesampaian. Dean sangat sibuk dengan bisnisnya, sehingga tidak ada waktu untuk Thalia. Tapi Dean memberikan perhatian lain berupa barang-barang mewah yang dikirimkan untuknya. “Dean itu sibuk banget, kan? Aneh aja dia masih punya waktu untuk belanja.” Kalimat yang dilontarkan Tora kepada Thalia membuat Thalia terhenyak dan memikirkan kembali hubungannya dengan Dean.Dua orang yang dikecewakan oleh cinta, bertemu dan bersama-sama selama sepuluh hari. Pepatah Jawa yang mengatakan bahwa cinta datang karena sering bertemu ternyata terjadi juga di Tokyo. Apakah itu terjadi karena kebetulan atau takdir? Yang pasti rasa nyaman yang mereka berdua cari akhirnya mereka temukan pada orang yang berbeda.“Takdir bukan berdiam diri saja, ia tengah menunggu kita memainkan ceritanya” Mengikuti cerita di Tokyo bukan hanya mendapatkan romansa, tapi juga belajar kebudayaan dan tempat-tempat menarik di Jepang. Ada beberapa kosakata juga yang bisa dipelajari lewat buku ini. Saya menyukai ide penulis yang menggunakan profesi wartawan untuk menceritakan tentang Tokyo. Selain itu, ada banyak sekali quote yang bisa dijumpai dalam buku ini (khas-nya mbak Sefryana kayaknya):)

  • Hidya Nuralfi Mentari
    2018-11-03 21:56

    "Banyak hal tidak terduga. Kamu, salah satunya."Tora dan Thalia terpaksa menjadi partner perjalanan selama di Tokyo karena kecerobohan Tora yang menabrak Thalia hingga lensa telephoto-nya jatuh dan rusak. Mereka pergi ke Tokyo atas penugasan yang diberikan pada tempat mereka masing-masing bekerja. Namun siapa sangka, keduanya harus berpartner untuk meliput hal-hal di Tokyo dengan menggunakan lensa telephoto Tora secara bergantian.Selama beberapa hari mereka bersama-sama menelusuri Tokyo. Dan perlahan mereka mengetahui bahwa selain urusan pekerjaan, alasan mereka mendatangi negara matahari terbit adalah untuk urusan cinta. Thalia mendatangi Dean, mantan kekasihnya yang kebetulan juga ada di Tokyo, dan mengharapkan sebuah hubungan baru antara mereka. Sedangkan Tora ingin menemui Hana,mantan kekasih lima tahunnya yang memutuakan hubungan secara sepihak."Love is beautiful thing when you find the right person. Your love is the grand prize, so you have to wait for a man who is worthy,"Secara natural, hubungan Tora dan Thalia semakin dekat. Bahkan tanpa sadar,mereka melupakan tujuan untuk kembali menjalin hubungan kepada para mantan kekasih mereka dan terhanyut pada kedekatan mereka berdua."Apa yang kamu pikirkan tentang semua ini?""Mungkin Tuhan tau kita nggak mungkin bisa menghadapi masalah kita sendirian, makanya ada yang nemenin."Namun takdir tak begitu lancarnya berjalan. Siapa yang sangka kalau pada akhirnya Dean melamar Thalia saat Tora tengah bingung terhadap perasaannya semdiri. Dan mau tidak mau, perjalanan mereka harus diakhiri sehingga mereka pun kembali berpisah."Mungkin ada kalanya cinta butuh jarak. Bukan untuk berpisah, tapi untuk menguji besarnya cinta itu sendiri.""Takdir bukan berdiam diri saja, ia tengah menunggu kita memainkan ceritanya."-----Tokyo: Falling-----Novel pertama Kak Sefry yang kubaca dan novel ke-5 seri STPC yang kubaca. Well, setelah terpending lebih dari seminggu karena harus liburan -coretmudikcoret- akhirnya aku bisa menyelesaikan salah satu seri STPC ini.Overall aku sangat menikmatinya. Nggak nyangka pengalaman pertama membaca novel Kak Sefry bisa semenyenangkan ini. Meskipun kuakui, temanya begitu mainstream dan terprediksi, tapi tetap saja aku menikmati cerita Tora Thalia di Tokyo di sini.Aku suka kedekatan kedua tokohnya yang sangat natural dan berproses. Jadi nggak terasa janggal saat jalan cerita mulai mendekatkan hubungan Tora dan Thalia. Bahkan saat mereka mengubah panggilan dari 'saya-kamu' menjadi 'aku-kamu' terasa sangat wajar dan sukses bikin aku senyum-senyum :')Sayang banget aku masih menemukan banyak typo di sini. Kebanyakan kurangnya salah satu huruf, ada juga kesalahan panggilan tokoh. Tapi lepas dari itu semua. Aku suka :)Banyak quote-quote bagus bertebaran yang membuatku semakin betah membacanya. Pokoknya suka :)

  • Rizky
    2018-11-06 23:03

    3.5 star of this novelFinally, selesai juga membaca novel ini dalam edisi #BacaBarengMinjul bersama @fiksimetropop di twitter dengan menggunakan hastag #TokyoFalling. #BacaBarengMinjul ini merupakan event yang diadakan tiap bulan oleh akun @fiksimetropop dimana kita membaca bareng 1 buku dan mentwit kesan-kesan kami membaca buku itu, all about buku yang sedang kami baca.Dan aku mendapatkan kesempatan untuk membaca bareng Tokyo, Seri Tempat Punya Cerita Gagas Media setelah sebelumnya kita disuguhin kisah dari Paris, Roma, Bangkok, Melbourne dan London.Tokyo ini masih mengambil tema tentang cinta, bercerita tentang kisah Tora dan Thalia dan segala kenangan mereka saat peliputan musim panas di Tokyo. Ya, 10 hari penuh warna, yang mengubah 2 orang asing yang "terpaksa" harus bersama-sama karena sebuah lensa dan perubahan pelan-pelan perasaan diantara mereka."Love is beautiful thing when you find the right person. Your love is the grand prize, so you have to wait for a man who is worthy."Dan mereka pun masih dibayangin kisah masa lalu masing-masing, Tora dan Hana, Thalia dan Dean. Tapi kisah masa lalu ini tidak terlalu dieksplor lebih jauh oleh penulis, malah kisah Tora dan Thalia yang lebih dominan, bagaimana hubungan mereka perlahan-lahan mencair dan memunculkan rasa diantara keduanya.2 orang yang bertemu karena sebuah kebetulan, harus bersama-sama selama 10 hari, apakah mungkin ini sebuah takdir? Apakah bisa disebut CINTA apa yang mereka rasakan? Kamu datang ke duniaku, menjatuhkan rasa merah muda, memberikan kotak berisi wajah-wajahmu, senyum-senyummu, tawa-tawamu, hinga rahasia-rahasiamuDan ketika Thalia dihadapkan sebuah pilihan, kembali kepada Dean yang telah memberikan kepastian kepadanya ataukah kepada Tora, cinta musim panasnya? Apakah yang akan dipilihnya?Sebenarnya, kisah Tokyo ini sangat simple, tapi penulis bisa meramu cerita ini dengan baik, aku seakan ikut menjelajah setiap sudut Tokyo bersama para tokoh, aku bisa membayangkan setiap detail setting yang diceritakan oleh penulis. Seakan-akan aku ada disana bersama Tora dan Thalia ^^ Yang suka dengan Tokyo, akan dimanjakan dengan setting yang detail, wisata kuliner yang menggoda dan all about Tokyo, lumayan menambah referensi jika ingin berpetualang kesana langsung =)Dan ketika sampai di akhir cerita, jujur aku ingin sebuah akhir yang lebih manis dan pasti, tapi ternyata penulis lebih memilih yang lain (ini mungkin ada alasan tersendiri oleh penulis). Overall, Tokyo menutup STPC ini dengan manis dan sedikit mengurangi rasa kecewaku membaca novel penulis sebelumnya "Coba Tunjuk Satu Bintang". Menanti karya penulis berikutnya =)

  • Joue Abraham Trixie
    2018-10-28 16:19

    Tokyo merupakan serial terakhir dari seri Setiap Tempat Punya Cerita. Projek dari Gagas Media. Setelah Paris, Roma, Bangkok, Melbourne, London, dan terakhir adalah Tokyo. Tokyo sendiri juga membuat saya menunggu - nunggu tanggal dirilisnya novel ini. Dan pada tanggal 6 Oktober di FX Sudirman, Tokyo mulai dijual perdana di even Jakarta Book Fair 2013.Well, saya menemukan beberapa kemiripan antara Tokyo dengan Roma, karangan Robin Wijaya. Cerita yang hampir mirip. Dua tokoh utamanya yang sama - sama belum kenal sebelumnya, kemudian dipertemukan di negara asing, lalu jatuh cinta. Karakter Thalia juga mirip dengan karakter Felice. Itulah kesan yang saya dapat di awal membaca novel ini. Awalnya saya kira, saya akan kecewa ketika membaca Tokyo. Nyatanya tidak.Seperti novel - novel Sefryana Khairil sebelumnya, ia mampu membangkitkan emosi pembaca sekalipun ide ceritanya sudah mudah ditebak.Cerita berawal ketika Thalia dan Tora yang sama - sama jurnalis dari redaksi majalah tempat mereka bekerja ditugaskan untuk pergi ke Tokyo dan melakukan liputan di sana. Tanpa sengaja Tora merusak lensa kamera milik Thalia dan akhirnya mereka berdua melaksanakan liputan bersama dengan mengatur ulang jadwal mereka agar tidak bentrok.Seiring berjalannya waktu, mereka berdua saling tertarik satu sama lain. Menyadari juga ternyata mereka berdua juga memiliki permasalahan yang sama. Keduanya memiliki masalah dengan pasangan masing - masing. Tora memiliki masalah dengan Hana yang ternyata Hana akan menikah dan Thalia memiliki masalah dengan Dean, mantannya yang tidak pernah ada waktu bagi Thalia.Saya ikut terbawa cerita. Apalagi menggunakan sudut pandang orang ketiga. Sefry juga memainkan cerita di posisi Thalia dan Tora. Seperti di kisah Melbourne karangan Winna Efendi.Bagian yang saya suka pada novel ini adalah ketika Tora mendapati Thalia bersama Dean. Kemudian Tora pergi dari kehidupan Thalia. Membuat Thalia sempat menyesali karena ia baru sadar kalau ia mencintai Tora. Cintanya untuk Dean sudah berubah sejak dulu.Saya juga menyukai akhir dari cerita ini yang menggantung. Memberikan kesan berbeda dari serial STPC yang lain.4 dari 5 bintang untuk Tokyo :) @SefryanaKhairil

  • Stefanie
    2018-11-12 20:04

    "Keanehan-keanehan ini pasti muncul karena rasa senasib dengan Thalia. Mereka sama-sama datang ke Tokyo dengan tujuan bertemu dengan mantan masing-masing dan sama-sama memiliki kisah menyedihkan. Ia ingin memperjelas hubungannya dengan Hana. Thalia berharap kembali dengan Dean - meskipun seperti berusaha menangkap angin."Thalia datang ke Tokyo untuk meliput acara dan tempat-tempat menarik untuk Belle Indonesia, majalah perempuan tempat ia bekerja. Dan ia juga datang untuk bertemu kembali dengan mantan kekasihnya, Dean - lelaki yang masih belum ia lupakan. Sebuah kebetulan saat Thalia mengetahui Dean juga berada di Tokyo untuk urusan bisnisnya, sehingga Thalia menaruh harapan besar pada laki-laki itu. Tora juga datang ke Tokyo diutus oleh majalah LiveLife untuk meliput. Kedatangannya ke Tokyo juga mengingatkannya pada Hana, perempuan yang masih menyisakan banyak tanda tanya bagi Tora. Oleh karena itu Tora ingin memperjelas semuanya.Thalia merasa ia amat sial saat Tora secara tidak sengaja menabrak tubuhnya, membuatnya menjatuhkan lensa yang amat penting dan berharga. Kerusakan lensa itu membuat Thalia tidak bisa meliput; lensa tersebut tidak mudah ditemukan dan membutuhkan waktu yang lama untuk memperbaiki. Tanpa punya pilihan lain, Tora yang mempunyai lensa serupa menawarkan agar mereka menggunakannya secara bergantian. Mereka pun terjebak dan harus terus bersama pergi ke tempat-tempat acara yang akan diliput...Baca review selengkapnya di:http://www.thebookielooker.com/2013/1...

  • Niken S arisandhy
    2018-11-08 22:06

    Dari ketiga novel STPC yang udah aku baca sampe skrg (Paris - Bangkok - Tokyo), Tokyo yang paling sweet yang aku baca disini :)Padahal kalo baca di ucapan thanks to penulisnya, kayanya dia sendiri belum pernah ke Tokyo, tapi dia bisa bawa Tokyo ke imajinasi kita..Sebenernya bisa dibilang alur cerita ini ketebak sih, cuma pembawaan penulisnya yang buat kita baca ngalir terus sama ceritanya, dan ada sedikit kejutan-kejutan di setiap tempat yang dia ceritain..Tora, Thalia..Dipertemukan karena lensa telephoto limited edition yang retak karena sama sama ceroboh..Dan akhirnya dia bareng-bareng selama di Tokyo, ngeliput berdua, bahkan sampe akhirnya berbagi cerita juga..Dan akhirnya saling jatuh cinta, tapi karena masing-masing mikirnya terlalu cepet, they're fall apart..Yang paling menyentuh tuh pas agak-agak mau terakhir, pas Thalia sama Tora ke festival dan Dean juga dateng..Betapa besar perbedaan antara Dean sama Tora..Dan itu dia sajikan dengan sangat manis..My fave quote at all:Anyone who fall in love is searching for the missing pieces of themselves. -- Haruki MurakamiUntuk rating, sebenernya kalo akhirnya ga di buat penasaran aku mau ngasih 5/5, tapi karena akhirnya kita disuruh berimajinasi lagi, 4/5 deh :PRecommended to read, aku malah lagi ngulang lagi bacanya :>

  • Handayani
    2018-10-21 18:16

    rate 3,5/5 Pertama kali baca novel karya mb sefryana khairil,suka banget sama semua yang berbau Tokyo, dan kebetulan lagi koleksi seri STPC. Beli buku ini gara gara tertarik sama setting ceritanya dan liat covernya. Dari segi cerita, suka cuman ga terlalu menggebu-gebu buat dibaca (maaf), padahal ekspektasi saya mengenai buku ini cukup tinggi. Sebelumnya sempet googling nama mb sefryana dan udah menerbitkan hampir 17 buku.Dari segi penggambaran karakter cukup jelas (bagaimana sosok thalia, tora, dean, hana) termasuk sifat dan kepribadiannya. Banyak quote yang bagus dan kosa kata baru yang saya pelajari. Narasinya kadang susah buat dibayangkan atau divisualisasikan, tapi banyak adegan yang berkesan apalagi ketika Thalia dan Tora benar benar menikmati liputan di Tokyo dan merasa nyaman satu sama lain. Sebel banget sama karakter Dean, hehe.Endingnya agak nanggung sih ya, tapi udah bisa ketebak sih bakal kayak apa. jadi 4 bintang buat cover + post cardnya. 3 bintang buat segi ceritanya.

  • Rita Puji Astuti
    2018-10-21 20:09

    puas berkelana di TOKYO :))kala pertama membaca Judul novel ini, bayanganku berimajinasi akan berpetualang di TOKYO, dan benar. mbak sefry menuangkan nya dalam tulisan yg jelas. Tempat ini memiliki panorama yg indah. ah, seperti barusaja aku pergi kesana.Thalia, seorang wartawan Belle ditugaskan meliput event - event di Tokyo, yang kebetulan ia bertemu dg Tora seorang wartawan di Livelife. keduanya bertemu karena kecerobohan Thalia. Mereka memiliki masalah dg mantannya masing2. bertemu dg masa lalu yg sama. Sefryana membuat alur cerita yg menarik, Thalia dan Tora dipertemukan untuk 10 hari menjalani kebersamaan. Kebersamaan yg membuat Thalia merasa nyaman bebas berucap kata sebelum ia keluarkan. Tak hanya itu, Thalia bahkan merasakan kehangatan yg berbeda. merasakan perutnya bergejolak bersama Tora. Tapi Tora tampak tak peka, hingga ia membiarkan Thalia bertunangan dg Dean, bagian dr masa lalu Thalia yg memiliki masa depan cerah. Tora hanya bisa berdiam ketika ketiganya bertemu di Festival Tanabata Shitamachi, merelakan perempuan musim panasnya bersama Dean.

  • Cloudhy
    2018-11-06 17:16

    Hmmmm~~ Ini novel pertama Kak Sefry y aku baca sih jadi masih belom terlalu kenal dengan gaya nulisnya...Tapi novel ini kereeeen, part gembira Thalia- Tora having fun itu dapat banget kok walaopun selama baca aku kurang nemuin feel sedihnya kaya'' perasaan Thalia waktu Tora ninggalin dia di Festival Tanabata~aku nggak rasain nyesss d dadaku(apa ini).....Nggak tau apa y kurang maybe gambaran perasaan Thalia y nggak terlalu dperjelas dunno hmmmEndinnya y nggantung emang beda ama lain walaupun ttp sweet Yang pasti aku enjoy baca novel ini~~walaupun dengan gangguan sii Baby Ayyoub y pengen ikutan baca juga kkkkkkCant wait for ur next story kak dan kaya' aku mau berburu novel2mu sebelumnya ^`

  • Dika Nurul
    2018-11-12 17:17

    "Takdir bukan berdiam diri saja, ia tengah menunggu kita memainkan ceritanya."3.5 bintang untuk novel ini. Keindahan kota Tokyo dengan segala detilnya yang ada membuat novel ini sangat menarik. Selain memang saya menyukai Jepang, latar yang ditampilkan benar-benar menggugah keinginan pembaca untuk mencoba Daikanransha ataupun sekadar duduk-duduk di taman Ueno menikmati angin semilir.Novel ini mengingatkan kita tentang artinya berusaha, berani mengambil kesempatan dan memutuskan pilihan. Semua tidak akan berjalan baik, kalau saja yang kita lakukan hanya melarikan diri, takut dan menjadi pengecut.Review lengkapnya:http://orangesorange.blogspot.com/201...

  • Ruly Marifanti
    2018-10-13 20:14

    3.5 starsAku suka banget sama covernya, manis! Jadi ngebayangin bunga-bunga sakura yang mekar di Jepang :)Di novel Kak Sefryana Khairil yang satu ini, entah kenapa aku kurang bisa masuk ke dalam ceritanya. Aku juga kurang bersimpati ke tokoh-tokohnya.Tapi ada beberapa adegan yang cukup mengesankan. Aku menikmati kebersamaan Tora dan Thalia.Narasinya lancar dan lincah, khas Kak Sefry. Ada beberapa typo, tapi masih bisa dimaklumi.Oh iya, mungkin novel ini bisa di jadikan panduan kalau ingin travelling ke Tokyo, karena di dalam sini banyak tempat-tempat keren yang di kunjungi Tora dan Thalia :)Semoga aku bisa ke Jepang suatu hari nanti! :D

  • Mujias Arai Asmani
    2018-10-22 22:07

    4 bintang untuk ending yang keren. Gantung, tapi pasti. Ide ceritanya sebenernya biasa aja, dua orang wartawan yang ga sengaja ketemu karena menyenggol lensa telephoto. tapi yang bikin menarik mungkin karena di cerita ini, baik Thalia maupun Tora terjebak di cinta yang ga pasti. Terutama Thalia. Secara keseluruhan, saya suka ceritanya. Tapi jujur, ini saya kurang berasa di Tokyonya... :DLagi baca ulang Infinitely Yours-nya Orizuka, meski ini di tulis Orizuka karena edisi liburan. Tapi kalau masuk seri stpc, keren juga ini... kerasa banget dapet Seoulnyaa.. :)Seri STPC favoarit sejauh ini masih Bangkok: The Journal, dan saya ngarepin banget Orizuka juga nulis STPC... :D

  • Charlenne Kayla Roeslie
    2018-11-03 21:16

    Okay. Endingnya nanggung banget.Sebelumnya, saya mau ngucapin makasih buat Kak Sefry yang udah ngasih saya buku ini. Arigatou gozaimasu Sefry-san! Dan saya sangat suka sama covernya. Kawaii desu!Di sini, saya jatuh cinta sama Tora dan sebel setengah mati sama si Dean. Trus, Thalia itu fashionable banget menurut saya! :)Ada beberapa kesalahan ketik di buku ini, dan juga salah nama. Misalnya yang ngomong itu Thalia, dibilang Tora yang ngomong. Tapi masih bisa diterima sih.Overall, bukunya keren, cuma soal ending aja agak nyesek. Haha.

  • Nur Fauziah
    2018-11-10 23:18

    bagus aja, tapi nggak banget-banget. meskipun begitu, Tokyo berhasil membayar kekecewaanku setelah baca Coba Tunjuk Satu Bintang.

  • Ummi
    2018-11-12 23:06

    well, 4,5/5Endingnya sengaja banget di bikin gantung, tapi sudah bisa menjelaskan kok mereka akhirnya bakal gimana.. hihiihiKeren dan sukaaa >.<

  • Felicia Putri Halim
    2018-11-08 20:18

    novel pertama pnya kak sefryana yg saya baca. love it!

  • Rofi
    2018-11-06 00:06

    Kayaknya udah lama baca buku ini, tapi pas lihat di GR kok nggak update ya. Jadi baca lagi saja. Lagian aku lemah dengan cover dan judulnya. Someday semoga bisa ke Tokyo, hehe. Ternyata memang sudah baca dan kepikiran lagi sama endingnya, kenapa begitu? Kadang kesel aja kalau gantungnya nanggung, wkwkw.Feeling tokyonya lumayan laah. Tapi brasa baca iklan sih. Kebanyakan brand dan merek yang disebutin.Cerita oke dan pas dengan tema. Kalau nggak salah seri STPC ini get lost, make memories ya? Naah, novel ini udah banyak kok memoriesnya, hehe.Btw, Thalia itu bawel sekali. Seandainya dia nggak cerewet dengan lensa photonya dia nggak akan menghabiskan banyak memori dengan Tora. Bakalan nggak ada cerita dong kalau berakhir begitu saja. Ngebayangin liputan Tora dan Thalia itu asik banget. Jadi jurnalis dan bisa jalan-jalan, apalagi sambil ketemuan mantan dan memastikan hubungan masing-masing. Ngebayangin kalau novel ini dijadikan film aku langsung kepikiran yang jadi Thalia si Melody JKT48, ahaha. Kayaknya cocok gitu.Overall, aku suka novel ini dan cukup menghibur. Apalagi pas Tora dan Thalia mulai merasakan jatuh cinta satu sama lain, bikin ketawa dan salting sendiri bacanya. Trus acara jalan-jalan dan liputan mereka, kereen.....dan inti dari novel ini adalah (menurutku ya) wanita itu perlu kepastian. Nikahi tau putusi! :)

  • Feby
    2018-11-04 20:01

    Depannya lumayan, tengah biasa cenderung boring, ending lumayan. (orang bilang endingnya ga jelas, tapi saya bilang endingnya lumayan bagus)Karakter biasa aja, tapi bolehlah. Yang cowok sih oke, yg cewek saya nggak terlalu suka. Sisi bagusnya, penulis bisa menggambarkan kota Tokyo cukup detail dan enjoyable. Selain itu saya dapat banyak love quote yg bisa bikin baper. hahahaha...Sayangnya alur novel ini terlalu biasa. (Ya maap deh, soalnya saya terlalu terkesan sama yang London.)

  • Suci Wulandari
    2018-11-04 18:22

    TokyoooooI don't know why I'm so in love this city,story in this book look so real, how writer tell the story make ourself like really in Tokyothe plot also not make story boringrecommended from you all who want to find yourself and move on from past