Read Indiepreneur by Pandji Pragiwaksono Online

indiepreneur

Belakangan ini, saya mulai menyadari bahwa kita adalah bangsa yang budaya berkaryanya diubah menjadi budaya bekerja.Kita kekurangan orang-orang yang punya semangat entrepreneurial. Kita kehilangan orang-orang yang berani memulai dari nol daripada melakukan pengulangan; yang bisa mencari jawaban daripada menghafal jawaban; yang berani ambil risiko, bukan yang sekadar cari aBelakangan ini, saya mulai menyadari bahwa kita adalah bangsa yang budaya berkaryanya diubah menjadi budaya bekerja.Kita kekurangan orang-orang yang punya semangat entrepreneurial. Kita kehilangan orang-orang yang berani memulai dari nol daripada melakukan pengulangan; yang bisa mencari jawaban daripada menghafal jawaban; yang berani ambil risiko, bukan yang sekadar cari aman; yang memiliki visi sendiri, bukan mengikuti visi orang lain atau perusahaan tempat dia bekerja. Kita kekurangan orang-orang yang berkarya.Saya menulis buku ini untuk membantu menepis keraguan para pekarya. Mereka tak perlu lagi khawatir bahwa karyanya akan dibajak atau bingung cara apa yang paling tepat untuk memasarkan karya terbarunya. Melalui lima tahun penuh eksperimen sebagai pekarya sekaligus pebisnis, saya menemukan formula yang luar biasa efektif: Free Lunch Method dan The Great Eight (G8-8). Formula yang akan membuat kita mampu memenangkan persaingan dan merebut hati para penikmat karya.Pandji Pragiwaksono,Pekarya...

Title : Indiepreneur
Author :
Rating :
ISBN : 9786022911081
Format Type : Paperback
Number of Pages : 272 Pages
Status : Available For Download
Last checked : 21 Minutes ago!

Indiepreneur Reviews

  • Hestia Istiviani
    2018-11-12 16:10

    Entah sudah berapa lama follow Pandji via Twitter, namun sepertinya semenjak buku elektronik NASIONAL.IS.ME ramai diperbincangkan. Sejak saat itulah aku mengikuti pemikiran yang Pandji sering utarakan melalui Twitter, termasuk salah satunya ketika ia berujar untuk menerbitkan Indiepreneur ke dalam bentuk tercetak (selama ini dijual dalam bentuk digital download). Senang dong! Meski harus menunggu lebih lama ketimbang mereka yang ada di Jabodetabek, akhirnya aku berhasil membaca buku ini hanya dalam semalaman saja. Gaya Bahasa, Kosa Kata, dan Cara PenyampaianPandji bersikap fair karena mengatakan di depan bahwa buku Indiepreneur menggunakan cara penyampaian story telling. Kalau pembaca sudah pernah membaca beberapa buku non-fiksi tulisan luar negeri (misalnya Art of Thinking Clearly) pasti tidak merasa kesusahan (& malah menyenangkan!) untuk mengikuti bagaimana cara Pandji bercerita. Masih sama dengan buku-buku Pandji yang sebelumnya, Pandji menggunakan gaya bahasa yang lugas dan tegas. Pandji tidak malu-malu untuk mengatakan hal yang baginya negatif. Begitu pula dengan penggunaan kosa katanya. Aku rasa tidak ada yang sulit. Pandji menggabungkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris semata-mata untuk membuat pembaca lebih mendalami maknanya (tahu kan, ada beberapa pepatah yang lebih mengena jika dituliskan dalam bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia?). Karena itulah, mungkin pembaca yang termotivasi membaca karena penasaran, "ini buku tentang apa sih?" akan lebih cepat membacanya. Bukan karena isinya yang tidak bagus, tetapi karena cara penyampaian + gaya bahasa + kosa katanya tidak menyulitkan pembaca. Pembaca tidak perlu berpikir berkali-kali akan pesan yang ada di dalam buku. Desain dan Tata LetakAh, ini juga salah satu hal yang aku suka. Untuk versi cetaknya, Indiepreneur menggunakan tiga warna: biru, hitam, dan putih. Judul bab, kutipan, dan poin pentingnya diberi warna bitu. Di sela-sela halaman ada kutipan dari Pandji yang didesain secara menarik. Perpisahan antarbab juga didesain dengan bagus. Indiepreneur tidak hanya berisi tulisan saja, Pandji juga menyisipkan foto-foto untuk mendukung apa yang dijelaskan olehnya. Warna yang digunakan dalam buku ini tidak membuat sakit mata. Wajar sih, kalau ada pembaca yang bisa menghabiskannya dalam waktu semalam suntuk :pIsi BukuPandji melalui verso kaver Indiepreneur melabeli dirinya sebagai seorang "pekarya" dan buku ini lah yang sedikit banyak menjabarkan mengapa dirinya lebih senang disebut dengan "pekarya". Pandji juga mengatakan bahwa para pekarya lain di Indonesia sangat mungkin hidup dari karyanya sendiri dengan tetap idealis akan prinsip yang dipegang, tanpa harus menghilangkan idealisme itu sama sekali demi mengiktui permintaan pihak-pihak lain. Pada dasarnya, buku Indiepreneur berkisah mengenai pengalaman Pandji dalam "memasarkan" karyanya. Segala macam eksperimen sudah ia coba dan ia tuangkan dalam bukunya ini.Misalnya saja ketika ramai isu-isu pembajakan, Pandji malah menggratiskan karyanya. Tidak masuk akal? Di dalam Indiepreneur akan dijelaskan mengapa Pandji mendorong penggemarnya untuk "membajak" lagunya, bahkan di-support langsung oleh pekaryanya. Itu masih contoh kecil. Apa yang kita lihat selama ini sebagai suatu fenomena yang salah, yang bisa mematikan industri tertentu (pembajakan musik mengancam industri rekaman, misalnya), Pandji mengajak pembaca untuk melihat dari sisi yang berbeda dan mencoba untuk mengondisikan pembaca agar mencari solusi dari sudut yang lain itu. Kalau bahasa gaulnya, Pandji mengajak pembacanya ini untuk berpikir anti-mainstream atas sebuah ancaman, karena malah solusi yang anti-mainstream itu yang bisa kita jadikan counter untuk ancaman kita. Walau memang aku pribadi belum menjadi seorang pekarya, tetapi ilmu yang dibagi Pandji di dalam buku ini menarik, bahkan aku rasa bisa dikorelasikan dengn mereka-mereka yang ingin berkarya. Pandji membahas startegi dan pengalamannya mungkin memang terasa spesifik untuk karya musik dan stand up comedy-nya, tetapi kalau pembaca bisa menarik konsep utamanya dari apa yang diutarakan Pandji, aku rasa pembaca bisa menemukan taktik yang bisa diaplikasikan. Sama dengan apa yang dilakukan oleh Pandji.Pandji membagi buku ini menjadi langkah-langkah yang dimulai dari mengondisikan pembaca memiliki pola pikir yang sejalan dengannya. Barulah kemudian Pandji mengupas tekniknya yang ia sebuh dengan The Great Eight (GR8-8). Secara lengkap Pandji membahas mengenai produk, promosi, komunitas, pengalaman, harga, distribusi, kolaborasi, hingga mengenai tim yang bisa mendukung kinerja optimal si pekarya.Jujur saja, cara Pandji bercerita dalam buku ini, disertai dengan contoh-contoh kasus yang (mungkin) sudah sangat familier membuat pembaca akan menjadi peka. Tidak mungkin Taylor Swift tiba-tiba melejit dengan banyak penghargaan tanpa adanya strategi yang sesuai dengan pasarnya dan berbeda dengan yang sudah ada. Atau misalnya saja Jay-Z, yang melabeli diri sebagai bisnis. Pandji mencoba mengangkat kasus dan pengalaman mereka yang selama ini kita lihat kesuksesannya saja, ternyata ada proses berpikir kreatif di dalamnya. Pandji menulis dalma bukunya bahwa riset itu penting. Menjadi peka dengan pasar yang ingin dituju plus bisa membaca data dan kecenderungannya, akan sangat membantu pekarya untuk mendapatkan apresiasi yang sesuai. Tidak bisa sembarang ikut-ikutan startegi pemasaran, tanpa melihat bagaimana pasar bereaksi akan suatu hal. Apalagi sudah diketahui banyak orang, netizen adalah masyarakat yang besar, jangan remehkan kekuatan mereka (artis Korea aja bisa bunuh diri gara-gara diserang netizen, hayo).Yang Pandji tekankan dalam buku Indiepreneur ialah, bahwa di tengah semua hal yang bisa diduplikasi dengan mudah, tetap saja ada hal yang tidak bisa disalin berulang. Yakni suatu hal yang bernama "pengalaman". Ini bisa panjang ceritanya kalau aku jelaskan dengan pendekatan cultural studies (eh, itu topik skripsiku sih ya hehehe). Aku setuju. Penggemar memang bisa mendengarkan suara Pandji via CD atau DVD atau bahkan dari free download-nya itu. Tapi yang selalu dinanti adalah bagaimana caranya mendapatkan pengalaman untuk mendengarkan Pandji nge-rap secara langsung sampai ikut berdendang bersama.Di akhir buku, Pandji menuliskan bahwa buku Indiepreneur utamanya dipersembahkan untuk para pekarya, bahwa mereka bisa mendapatkan kehidupan dari karyanya itu, Sebuah tulisan yang indah dan menggugah tentang tidak ada salahnya menjadi idealis, apalagi dengan karya sendiri.---Meskipun buku ini lebih banyak mengungkapkan teknik Pandji dalam mempublikasikan karyanya, tidak ada salahnya menjadi bacaan utnuk menambah pengetahuan. Untuk mengetahui bagaimana pasar sangat cepat berubah. Untuk aku pribadi, dari sisi calon pustakawan masa depan (amin!) dan sebagai Community Manager, ada banyak hal yang bisa aku aplikasikan (nanti ya, tulisannya akan aku publikasikan di blog pribadiku!). Aku pribadi, merasa tidak rugim dan bahkan harga buku yang lebih dari Rp 50.000 ini sesungguhnya worth to buy and read. Tidak memalukan juga jika menjadikan buku ini sebagai kado kepada orang tersayang. Aku tidak bisa berkata lain. Bacalah!

  • Ariestanabirah
    2018-11-02 22:03

    Saya suka sekali buku ini!! Cara menulis dan informasi-informasi menjadi indiepreneur benar-benar jadi ilmu baru. "Bukan tidak ingin menunggu yang telat, tapi menghargai yang tepat waktu." (Hal.167)"Membangun antusiasme adalah kunci dari penjualan yang baik.""Berkarya beda dari bekerja."

  • Steven S
    2018-11-13 17:04

    Apakah seorang pekarya bisa hidup dari karyanya?Buku-buku Pandji Pragiwaksono selalu menarik untuk dibaca. Kali ini Pandji menerbitkan buku yang membahas perjalanan dirinya sebagai creativepreneur di Indonesia. Berbekal pengalamannya berada di empat industri berbeda membuat buku ini bukan sekedar buku motivasi atau tips & trik jual diri biar beken. Indiepreneur akan membuka mata kebanyakan orang yang meremehkan seorang seniman atau pekarya bisa hidup dari karyanya. Dengan narasi yang kuat dan ngena banget, Pandji menceritakan ide-idenya mulai dari bagaimana dewasa ini teknologi menjadi senjata sekaligus musuh pekarya, membuat karya yang hebat hingga kolaborasi bareng brand yang saling menguntungkan. Penguasaan hal diatas setidaknya akan membuka jalan pekarya untuk dapat terus sustain di industrinya. "Membangun antusiasme adalah kunci dari penjualan yang baik." - Pandji Pragiwaksono Seperti biasa, di bukunya Pandji selalu mengajak pembaca untuk memasuki sebuah pemikiran yang beda. Lihat saja desain sampulnya. Penulis seolah mengajak para pembaca (pekarya) untuk keluar dari pemikiran usang kekhawatiran akan pembajakan dan pilihan promosi yang tepat dalam memasarkan sebuah karya. FREE LUNCH METHOD yakni Freemium, Community Building, dan Online Activation dan Great Eight (Gr8-8). Kedua hal tersebut adalah titik sentral dari apa yang dibagikan Pandji di #Indiepreneur. Lewat pengalaman dan pengamatannya berkarir selama ini Pandji mencoba membagikan sebuah jalan (atau setidaknya jawaban) dari pertanyaan klasik berikut, apakah seseorang bisa hidup dari karyanya?.Membaca buku ini juga membuat kita akan lebih sadar untuk menghargai sebuah karya. Satu hal yang pasti penulis tanpa ragu membuka isi dapurnya. Sesuatu yang pasti jarang dilakukan pekarya lain. Buku ini merupakan buku wajib para pekarya yang ingin maju dan tentu saja dapat hidup dari kerja kreatifnya.

  • Reyhan Ismail
    2018-11-07 23:59

    Yang membuat saya tertarik membeli buku ini adalah ; Judulnya. Indie dan Preneur. Bertepatan dengan kebingungan saya untuk memilih penerbit buku indie atau major.Jujur. Saya sama sekali bukan penikmat karya-karya dari Pandji. Baik itu karya musik, buku ataupun standup comedy-nya. Sebelum membaca buku ini saya bahkan belum pernah melihat Pandji nge-rap, kalo standup comedy sih, sering. Sehingga, buku ini adalah karya pertama yang saya beli dan baca dari Pandji Pragiwaksono (tentunya bukan buku bajakan) :)Dari buku ini saya mulai khilaf menonton dan mendengar Pandji nge-rap untuk pertama kali. Bagaimana tidak, setiap ulasan dari buku ini dihubungkan langsung dengan pengalaman Pandji dalam menggarap karyanya baik dibidang musik, buku dan standup comedy.Urutan tiap bab-nya disusun secara sistematis. Mulai dari membuat produk sampai ke kolabarasi dengan tiap brand. Cukup untuk menambah wawasan saya tentang dunia dalam lingkup 'pekarya'. Oiya, Saya kurang puas karna konsep industri karyanya campur aduk. Disatu sisi Pandji menceritakan karya nya dibidang hip-hop, satu sisi dibidang tulisan dan satu sisi lagi dibidang standup comedy. Sehingga, kadang agak membingungkan terkhusus buat orang yang sama sekali belum mengenal karya2nya.

  • Eugenia
    2018-10-18 19:11

    It was amazing karena buku ini menjadi salah satu nonfiksi, yang seperti biasa, selalu saya baca ulang dan menjadi pedoman.Setelah banyak membaca nonfiksi-yang-cenderung-ditulis para penulis luar, salah satu teman saya merekomendasikan buku ini. Saya belajar banyak dari Mas Pandjie dan pengalamannya berkarya di Indonesia (berhubung kalo baca luar negeri punya kan kondisinya kondisi negara orang, yah). Kagum sama cara-cara kreatif Mas Pandjie membangun pasar dan mempertahankan mereka. Semisal, acara TwivateConcert yang fenomenal itu. Juga jatuh bangun perjuangannya dalam berkarya. Lewat buku ini saya banyak belajar bagaimana seharusnya seorang pekarya menghargai karyanya sendiri dan pada akhirnya bisa hidup nyaman dari karyanya. "'Bisakah saya kaya dari karya saya?' Mungkin pertanyaannya perlu diganti, 'Bisakah saya bahagia dari karya saya?' Untuk pertanyaan yang kedua, jawabannya : BISA." (page 248).

  • Krisna
    2018-10-15 20:10

    Buku yg bagus dan cocok dibaca sebagai hidangan pembuka sebelum baca buku-buku marketing dari Phillip Kotler, ataupun Hermawan Kartajaya.

  • Daus
    2018-11-08 16:50

    cool

  • Ariel Seraphino
    2018-10-29 19:10

    Membaca Indipreneuer dari sejak pertama melihat covernya yang menarik benar-benar membuat saya jatuh hati. Saya belum pernah membaca satu pun buku yang ditulis oleh Pandji. Dan mengapa saya memilih buku ini sebagai buku pertama Pandji yang saya baca tentu dengan alasan karena saya tertarik dengan tema yang buku ini tawarkan. Melihat entrepreneur diubah menjadi indiepreneur tentu jadi daya tarik sendiri. Tanpa keraguan saya langsung penasaran apa isinya. Dan semakin dalam saya membacanya, saya sampai pada kesimpulan bahwa Pandji benar-benar seorang pebisnis yang menghibur. Saya katakan ini karena tidak saja saya tidak begitu tahu lagu rap yang dia ciptakan, buku-buku yang ditulis, di antara semua subjek yang dia geluti mungkin hanya stand up comedy yang paling sering saya liat. Meski dengan begitu saya sendiri juga lagi-lagi belum pernah datang langsung melihat tour stand up comedy Pandji yang pernah dia gelar. Tetapi setelah membaca Indiepreneur, bisa dipastikan saya akan semakin penasaran dengan semua hal yang Pandji geluti selama ini. Di buku ini diceritakan bagaimana Pandji yang selama ini kita kenal ternyata juga membangun sebuah bisnis yang tidak saja sustainable tetapi juga adalah sebuah bisnis yang kuat secara personal branding. Berdasarkan pengalamannya bertahun-tahun dalam pemasaran, Pandji mampu membuktikan sendiri bahwa seorang pekarya saat ini bisa hidup layak dari karyanya sendiri. Dan semangat ini tentu saja berusaha ditularkan Pandji dengan menulis buku ini. Dari bagaimana membangun personal branding yang kuat, membentuk tim kerja pendukung hingga menciptakan metode yang dia sebut Free Lunch Method dan GR8-8. Nah, lebih jauh tentang metode tadi bisa kalian baca di buku tersebut. Dan satu lagi yang menurut saya menjadi nilai tambah dalam buku ini yaitu tentang bagaimana Pandji bercerita segalanya dengan lugas, seperti story telling dan tidak terkesan menggurui. Gaya bahasa inilah yang membuat saya sendiri suka dengan cara Pandji bercerita semua hal menarik di buku ini. Hingga tidak terasa saya sudah selesai membacanya. Hal ini berbeda dengan kebanyakan buku entrepreneurship lain yang pernah saya baca. Semua pesan seolah mudah untuk dikerjakan hanya bagi mereka yang benar-benar ingin berkarya dan ingin karyanya dapat menghidupinya. Mari dicoba!

  • Reiza
    2018-10-17 20:14

    Indiepreneur. Buku Pandji pertama yang saya baca. Itu pun karena tertarik dengan isinya yang kebanyakan membahas mengenai dunia usaha dan dunia kreatif. Tapi ada yang membedakan buku ini dengan buku-buku yang membahas permasalahan serupa sih. Saya merasa nyaman dengan gaya penuturan Pandji yang mengalir dan bercerita. Saya pun banyak mendapatkan contoh studi kasus yang sangat membuka wawasan saya terkait dengan dunia marketing, dunia seni dan dunia kreatif. Pandji memulai buku ini dengan bertanya: Bisakah seorang pekarya mendapatkan penghidupan yang layak dari karyanya? Pandji (dan kita) memang layak sekali mempertanyakan itu. Ketika pembajakan begitu merajai, ketika orang-orang yang berkarya dan mematok tarif untuk karyanya dianggap sebagai suatu hal yang berlebihan, dianggap pelit ketika tidak mau berbagi karyanya dengan cuma-cuma, dan lain-lainnya. Dari buku ini saya belajar tentang satu hal yang sangat menarik perhatian saya. The Free Culture. Pembajakan merupakan salah satu buah dari munculnya bentuk budaya atau kultur Free tersebut. Sementara Pandji sendiri memperlihatkan bahwa sungguh amatlah berbahaya dan dapat menjadi bumerang apabila kita melawan kultur gratisan tersebut sendirian. Kasus peluncuran album Madonna tahun 2003 jadi contoh yang sangat gamblang.Lalu apa yang harus kita lakukan?Nah, di buku ini dijelaskan mengenai strategi menghadapi kultur gratisan ini. Bukan dengan dilawan, tetapi dengan diakali. Dan di titik itulah, saya sangat menyukai buku ini. Empat bintang, dan sangat rekomen bagi siapa saja, tidak hanya para pekarya seni, tetapi juga para pengusaha di bidang kreatif, startup, karyawan, dosen, mahasiswa, guru, murid, semuanya.Karena "berkarya beda dengan bekerja." - Pandji Pragiwaksono

  • Atana Nadhirah
    2018-10-19 17:09

    Emang bener sih, salah satu ciri khas Pandji adalah tulisan yang kerasa jujurnya. Lewat buku Indipreneur, Pandji menceritakan prosesnya dalam berkarya. Bagaimana menciptakan karya dengan hati, membuatnya bisa dinikmati orang lain, mempromosikannya, sampai bagaimana caranya bisa hidup dari karyanya. Dari mulai inisiatif membuat konser sendiri (TwivateConcert) (seadanya dan menggunakan dana pribadi), karena katanya waktu itu jarang ada yang menawarkannya untuk manggung, hingga akhirnya banyak brand perusahaan terkenal yang mengajaknya bekerja sama. Bagaimana akhirnya tiket pertunjukan musik hiphop maupun stand-up nya selalu sold out dalam waktu yang sangat singkat. Pada intinya, Pandji membukakan pikiran kita semua untuk saling menghargai karya, karya siapa pun itu, dan menegaskan bahwa kita semua bisa hidup dari karya kita. Karena pada dasarnya berkarya itu beda dengan bekerja. Bekerja adalah tuntutan. Berkarya adalah keinginan yang datangnya dari hati.

  • Stebby Julionatan
    2018-11-12 17:57

    kalo dibandingkan sama buku-bukunya terdahulu sih, terutama Nasional.is.me, yang ini ga seberapa bagus. bukan masalah topiknya... kalau masalah topik emang masing-masing buku beda banget, dan panji banget. tapi maksud saya di sini adalah, saya masih menemukan beberapa lubang yang menurut saya Pandji kurang matang dan tergesa-gesa memberikan jawabannya. terutama soal penjiplakan. kenapa kita tidak boleh melakukan atau memberi barang-barang bajakan. biasanya data-data dia kan lengkap dan akurant. :)sukanya sih, aku jadi paham (dan punya makna) mana yang bekerja dan mana yang berkarya. salut buat Pandji!

  • Ginan Aulia Rahman
    2018-11-08 22:12

    Buku yang menarik untuk dibaca, apalagi bagi kamu seorang pekarya. Karya yang bagus akan menjual dengan sendirinya. Jadi pastikan karyamu itu bagus. di buku ini dijelasin 8 hal yang membuat karya kamu bagus. yaitu originalitas, detail, produk dari 10000 jam, punya dasar yang kuat, dstdijelasin juga cara pemasaran, distribusi, kolaborasi, penentuan harga. Banyak loh orang yang bisa hidup dari karya. Kalau pinter cara menjualnya pasti lebih besar penghasilan dari karya di banding dari kerja gajian. apalagi karya bakal meninggalkan bekas. beda dengan kerja kantoran yang bentuk barangnya tidak kelihatan.

  • Khairul Muhammad
    2018-10-31 21:10

    Naskhah ini saya dapatkan dari Jakarta International Book Fair 2016 lalu. Saya fikir jika buku itu diletakkan di bahagian hadapan pintu masuk booth, sudah pasti ia punya nilai yang tinggi. Jadi saya terus beli dan malam itu juga saya mula membacanya.Ia cukup hebat. Bagi seorang penyanyi, Pandji memberi idea berniaga dan berusaha dalam aspek berbeza. Naskhah ini sekarang sudah jadi rakan baik saya. Saya cukup sukakannya.

  • Ryan Oktafiandi
    2018-11-05 17:52

    Unfortunately this book is not as much as what i was expecting :(

  • Ignasius Hasim
    2018-11-03 15:56

    Tulisan Pandji selalu enak untuk dibaca.

  • Suci Rahmawati
    2018-10-22 23:08

    Buku paduan untuk anak muda atau orang-orang yang mau mencoba buka usaha sendiri. Ada beberapa contoh kasus yang memudahkan mengerti isi buku ini.

  • Indah Threez Lestari
    2018-11-06 19:09

    323 - 2016